Tuesday, January 22, 2019

Keadaan Hati di Dalam Dada

🌸🌾 *Keadaan Hati Di Dalam Dada*

✍ _Ustadz Abu Zubair Al Hawary,Lc_

_Perkataan yang indah oleh Ibnul Qoyyim :_

Keadaan seorang hamba di dalam kubur seperti keadaan hati di dalam dada, saat mendapat nikmat dan azab, saat ia terpenjara dan bebas.

Apabila engkau hendak mengetahui kondisimu kelak di dalam kuburmu maka lihatlah keadaan hati di dalam dadamu. Apabila hatimu penuh cahaya, tenang dan suci. Maka ini adalah keadaanmu di kuburmu bi idznillah, dan begitu juga sebaliknya.

Oleh karena itu, engkau dapatkan orang yang taat, berakhlak baik dan pemaaf adalah orang yg paling tentram..karena keimanan menghapuskan keresahan dan kegundahan. Ia adalah penyejuk mata orang-orang yang bertauhid serta hiburan ahli ibadah.

Saudaraku tercinta,
barangsiapa yang senantiasa bertasbih terlepaslah belenggunya.
Barangsiapa yang selalu memuji Allah tercurahlah atasnya kebaikan-kebaikan dan barangsiapa yang sering beristighfar dibukakan baginya segala yang terkunci!!!

http://www.salamdakwah.com/artikel/1147-keadaan-hati-di-dalam-dada

══ ¤❁✿❁¤ ══

🌎 www.salamdakwah.com
πŸ“Ί http://bit.ly/salwatv
πŸ“²Twitter @salamdakwah
πŸ“ΈInstagram @salamdakwah

======πŸ”…======

πŸ„πŸŒ·πŸ₯€πŸŒΉπŸ’πŸ‚πŸŒΈ

Wednesday, January 09, 2019

PARENTING Ini Jawaban dari ‘Pelarangan’ kata JANGAN dalam Pengasuhan Anak



Sumber : http://sayangianak.com/ini-jawaban-dari-pelarangan-kata-jangan-dalam-pengasuhan-anak-dalam-al-quran/
Menarik sekali bagaimana akhir2 ini tiba-tiba banyak orgtua menanyakan pada saya tentang ‘pelarangan’ kata JANGAN dalam pengasuhan anak.
Tampaknya ada artikel yg sedang beredar yg mengatakan bahwa para pakar parenting dan psikolog mengajarkan cara pengasuhan yg ‘kebarat-baratan’ dengan mengesampingkan ajaran quran.
Saya, tanpa mengatasnamakan psikolog dan pakar parenting manapun, merasa tergelitik utk meluruskan, BUKAN utk merespon artikel tersebut, hanya utk membantu teman-teman yg jadi bingung dalam mengasuh anaknya.


Sebagai yayasan parenting yg berbasis islam, kami tdk merasa pernah mengajarkan utk melarang menggunakan kata jangan dalam pengasuhan anak sehari-hari. tapi sebagai yayasan parenting yang juga berbasis science, kami juga memberikan pandangan lain yg lebih logis, karena tdk semua hrs dilihat dari satu sisi saja. lagipula pesan-pesan yang kami syiarkan berlaku utk semua orangtua, tanpa mengenal suku, ras, agama atau status sosial ekonomi.
Tapi, mari kita lihat fakta akan kata kontroversial ‘jangan’ ini dalam al-quran.
Ada 6.236 ayat dalam alquran. (tdk percaya, hitung sendiri. Dan kata ‘jangan’ tersebar di 368 ayat. lagi2, kl tdk percaya, silahkan hitung sendiri. Itu berarti ada sekitar 5.868 ayat yang TIDAK memiliki kata jangan. Untuk itu, berarti…kata ‘jangan’ bahkan tidak sampai 6% dalam ayat-ayat alquran
lalu apa di ayat-ayat sisanya???
  • dirikanlah shalat… bukan JANGAN tinggalkan shalat
  • tunaikalah zakat…bukan JANGAN lupa berzakat
  • rukuklah bersama orang-orang yg rukuk
  • ingatlah…..bukan JANGAN lupa
  • sembahlah…
  • peliharalah …
  • sujudlah….
  • penuhilah janji..bukan JANGAN ingkar janji
  • berimanlah..
  • makanlah makanan yg baik2…
  • peganglah teguh2..
  • dan masih banyak ‘lah-lah’ lain tersebar di lebih dari 368 ayat.
Lagipula, siapa sih yg mengharamkan kata jangan?
Kami (mengatasnamakan pakar parenting dan psikolog) hanya menyarankan utk tidak menggunakannya terlalu banyak. bukankah itu pula yg allah sarankan ketika hanya meletakkan kata jangan di 368 ayatnya?
Teori ‘kebarat-barat’an biasanya di dasari pada penelitian keilmuan yg biasanya jg di dasarkan pada temuan otak, yang juga ciptaan allah.
Jadi, JANGAN salah kaprah.
Janganlah ‘menunjuk-nunjuk, menuding-menuding, menyebut-nyebut’ profesi.
Jangan liat segala sesuatu dari sisi ‘jangan’nya saja. karena jika demikian, anda berarti hanya memahami 6% dr alquran.
Imbang sajalah. bukankah alquran menyebutkan kata hidup dan mati dalam jumlah yang sama? begitu pula kata keuntungan dan kerugian, panas dan dingin, kebajikan dan keburukan, kelapangan dan kesempitan, kufur dan iman semuaaa dalam jumlah yg sama (yg gk percaya lagi, itung lg sendiri :D)
Jadi saya himbau,..
asuhlah anak anda sesuai dengan kitab suci anda. Bagi yg muslim (krn sy tdk menguasai kitab suci lainnya), gunakanlah ‘metode’ allah…yg hanya 6% menggunakan kata JANGAN dalam buku pedomanNya bagi hambaNya.
Yang wajib jangan, HARUS tetap JANGAN.
  • Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, (2:11)
  • Janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil (2:60)
  • Janganlah kamu menyembah selain Allah,(2: 83)
  • Janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam (2:132)
  • Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan (2:168)
  • dan 363 ayat ‘jangan’ lainnya.
Jika anda mengasuh anak anda sesuai dengan metodeNya, tentunya akan tumbuh anak2 positif, shalih/shalihah dan menjadikan kitabNya jg sebagai pedoman.
Dan betul, dalam surat Luqman di sebutkan 7 kata jangan. Tapi Luqman juga mengatakan pada anaknya: bersyukurlah (bukan Jangan kufur nikmat), berbuat baiklah kepada kedua orang tua (bukan Jangan durhaka), dirikanlah shalat (bukan Jangan lupa shalat), suruhlah manusia mengerjakan yg baik (bukan Jangan mengajak dlm keburukan), bersabarlah terhadap apa yg menimpamu, sederhanakanlah dalam berjalan, dan lunakkanlah suara.
Benar, tidak ada psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman dan di sebutkan dalam kitab suci itu
Namun, menggunakan kata lain selain jangan akan membuat anak kreatif, punya pilihan, dan melihat semua hal dalam sisi positifnya, termasuk memaknai ayat-ayat allah.
Dengan meminimalisir kata jangan, anak akan tidak memukul teman karena dalam quran dikatakan bahwa allah menyukai orang2 yg berbuat baik (2:195).
Dengan meminimalisir kata jangan, anak akan tidak sombong, karena allah mengatakan “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” (25:63)
Dan, kelak, ia tidak akan berzina BUKAN hanya karena quran mengatakan janganlah mendekati zina, tapi karena sesungguhnya beruntunglah orang2…. yang menjaga kemaluannya (23:1-5)
Mengasuh anak harus seimbang. ajarkan sukses dan happy di dunia, dengan kunci kuat atas dasar akhirat.Jika demikian, tidak mungkin anak positif tidak menebarkan energy positif kelingkungan mereka. mereka PASTI akan ammar ma’ruf nahi mungkar. jamin.
Jadi.. gunakan jangan dengan bijak. Wajib jangan. tapi 90% boleh. apalagi dlm pengasuhan anak sehari2..manjat? boleehh.. asal mama peganginidupin korek api? bolleeeh… jika mau memasak atau menghidupkan api unggunmain air? BOLLEEEH..di kolam renangpegang pisau? boleh, jika mau memasak’boleh’ yg bersyarat akan di terima otak dengan lebih baik dari pada jangan.
Jadi kesimpulannya: masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhannya.pahami quran secara total. jangan setengah-setengah, jangan dipotong-potong, jangan se-surat saja.
Semoga tulisan ini membantu para orangtua yg perlu peneguhan, bahwa BOLEH bilang jangan. tapi JANGAN banyak-banyak:)

Sunday, January 06, 2019

Jadilah Orang Baik

_Belajar Mengenal Aura Jiwa Manusia_..
*_CIRI-CIRI ORANG BAIK_*
_πŸ‘‰1. Orang Baik cenderung *LEBIH BANYAK TERSENYUM.*_ _Percaya atau tidak, kebaikan seseorang bisa ditunjukkan dari cara dia tersenyum._ _Mengapa? Karena semakin banyak orang tersenyum, maka *Hawa Positif akan bertebaran disekitarnya*_ _Selain itu, dengan tersenyum, orang akan terkesan *lebih ramah dan bisa dipercaya*_
_πŸ‘‰2. Pikiran-pikiran negatif seperti iri hati & dengki jarang menghinggapi orang baik._
_Orang Baik akan selalu_ *_MENANAMKAN PIKIRAN POSITIF_* _dalam hidupnya._ _Bahkan saat dia mengalami masa-masa sulit sekalipun sehingga akan menyebarkan suasana nyaman._
_πŸ‘‰3. Orang Baik biasanya lebih sering_ *_MENYAPA DULUAN._* _Orang baik tidak akan keberatan untuk menyapa semua orang, bahkan terhadap orang yg berbuat jahat padanya sekalipun._
_Orang baik selalu terhindar dari rasa *menjadi orang penting*, ingin dicari dan dibutuhkan_.
_Dia biasanya tidak membutuhkan pengakuan orang atas kinerjanya selama ini._
_πŸ‘‰4. Orang Baik *TIDAK INGIN MENUNJUKKAN BAHWA DIA BAIK.*_ _Tapi orang jahat akan selalu membangun citra baik untuk (kekurangan) dirinya._
_πŸ‘‰5. Orang Baik selalu *PINTAR MENGENDALIKAN EMOSI.* Mereka terlihat sangat sabar dan toleran._
_Tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri._
_πŸ‘‰6. Orang Baik akan bercerita atau *MEMBAGIKAN HAL-HAL YG BERMANFAAT* dengan tujuan memberi tahu._
_Bukan untuk menggiring opini publik bahwa hanya dirinyalah yg benar._
_πŸ‘‰7. Orang Baik selalu menghafal 3 kata sakti. Yaitu *MAAF, TOLONG, & TERIMA KASIH.*_
_πŸ‘‰8. Orang Baik tidak akan keberatan untuk mengakui kelebihan orang lain._
_Apalagi jika dia merasa bersalah. Mereka tidak akan segan-segan untuk *MEMINTA MAAF & MEMPERBAIKI KESALAHAN.*_ _Berbeda dengan orang jahat yg memiliki gengsi tinggi & menganggap dirinya selalu benar._ _Jangankan mengaku salah, menganggap orang lain berprestasi saja gengsi, Ada saja alasan untuk mencari kesalahan serta untuk menjatuhkan orang lain._
_Semoga kita bisa melatih diri menjadi orang sabar dalam menghadapi setiap kejahatan & perilaku orang jahat._ _*"MEMANG BAIK MENJADI ORANG PENTING, TETAPI JAUH LEBIH PENTING MENJADI ORANG YG BAIK-*"
_Yuuuk ... Kita sama-sama berusaha dan belajar menjadi_
_*ORANG YG BAIK*_
πŸ˜ŠπŸ‘πŸ™
_Aamiin_..
_Seperti saudaraku yg sedang baca postingan ini adalah orang baik & mulia hatinya_πŸ‘πŸ™πŸ˜„
Mematahkan Mitos NEM, IPK dan Rangking
Oleh : Prof Agus Budiyono

Ada tiga konsep yang tidak saya percayai sepenuhnya dalam sistem pendidikan yaitu: NEM, IPK dan rangking.

Saya mengarungi sistem pendidikan selama 22 tahun (1 tahun TK, 6 tahun SD, 6 tahun SMP-SMA, 4 tahun S1, 5 tahun S2&3) dan kemudian dilanjut mengajar selama 15 tahun di universitas di tiga negara maju (AS, Korsel, Australia) dan tanah air.
Saya menjadi saksi betapa tidak relevannya ketiga konsep di atas dengan apa yang secara normal didefinisikan sebagai kesuksesan.
Ternyata sinyalemen saya ini didukung oleh riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley yang memetakan 100 faktor yang akan berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang berdasarkan survey terhadap 733 millioner di US.
Berdasarkan hasil penelitian beliau ternyata nilai yang baik (yakni NEM, IPK dan tentu saja rangking) hanyalah faktor sukses no ke 30! Sementara itu faktor IQ pada urutan ke-21 dan bersekolah ke universitas/sekolah favorit di urutan ke-23. Jadi saya ingin mengatakan secara sederhana:
▪ Anak anda nilai matematikanya 45 ? Tidak masalah.
▪ Tidak lulus ujian fisika ?
Bukan masalah besar.
▪  NEM tidak begitu sesuai harapan ?
Paling banter akibatnya adalah tidak bisa masuk sekolah favorit.
Yang memang, menurut hasil riset, tidak terlalu pengaruh ke kesuksesan aniwei.
▪  IPK termasuk golongan dua koma (baik dua koma sembilan….belas maupun dua koma pas) ?
Jangan sedih. IPK pan hanya mitos.
Paling banter adalah hanya alat ukur.
Yang tidak akurat aniwei.
▪  Anak anda sekolah di SMA 11 dan bukan SMA 3 Bandung ?

Lalu apakah faktor yang menentukan kesuksesan seseorang itu ?
Menurut riset Stanley berikut ini adalah sepuluh faktor teratas yang akan mempengaruhi kesuksesan:

1. Kejujuran (Being honest with all people)
2. Disiplin keras (Being well-disciplined)
3. Mudah bergaul (Getting along with people)
4. Dukungan pendamping (Having a supportive spouse)
5. Kerja keras (Working harder than most people)
6. Kecintaan pada yang dikerjakan (Loving my career/business)
7. Kepemimpinan (Having strong leadership qualities)
8. Kepribadian kompetitif (Having a very competitive spirit/personality)
9. Hidup teratur (Being very well-organized)
10. Kemampuan menjual ide (Having an ability to sell my ideas/products)

Hampir kesemua faktor ini tidak terjangkau dengan NEM dan IPK.
Dalam kurikulum ini kita kategorikan softskill.
Biasanya peserta didik memperolehnya dari kegiatan ekstra-kurikuler.yg semua itu ada di sepakbola..jadi jangan ragu kalau anak nya berolahraga .apalagi olahraga beregu seperti sepakbola.

ttd ZIP



Website counter